Selasa, 20 Mei 2014

Al Baqarah - Ayat 212

زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ اتَّقَواْ فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاللّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Kehidupan dunia (dan kemewahannya) diperhiaskan (dan dijadikan amat indah) pada (pandangan) orang-orang kafir, sehingga mereka (berlagak sombong dan) memandang rendah kepada orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa (dengan imannya) lebih tinggi (martabatnya) daripada mereka (yang kafir itu) pada hari kiamat kelak. Dan (ingatlah), Allah memberi rezeki kepada sesiapa yang dikehendakiNya dengan tidak terkira (menurut undang-undang peraturanNya).

Beautified is the life of the world for those who disbelieve ; they make a jest of the believers . But those who keep their duty to Allah will be above them on the Day of Resurrection . Allah giveth without stint to whom He will

TAFSIR NURUL IHSAN

زُيِّنَ لِلَّذِينَ كَفَرُواْ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا
Telah dihiasi bagi segala kafir itu akan hidup dunia maka kasih mereka itu akan dia
وَيَسْخَرُونَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُواْ
Dan mengolok-olok mereka itu daripada segala orang mu’minin kerana kepapan mereka itu seperti Bilal Habasyi dan Ammar ‘Arabi dan Suhaib Rumi mengolok-olok mereka itu atas mereka itu dengan harta kekayaan
وَالَّذِينَ اتَّقَواْ فَوْقَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dan bermula segala orang yang takut akan Allah itu pada atas mereka itu pada hari kiamat
وَاللّهُ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Dan bermula Allah Ta’ala itu Tuhan yang memberi rezeki akan mereka yang dikehendaki dengan tiada hisab arti rezeki yang luas pada Akhirat atau dunia dengan dipermilik akan orang yang diolok-olok itu akan harta orang yang mengolok-olok dan tangguhnya

Isnin, 19 Mei 2014

Al Baqarah - Ayat 211



سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَمْ آتَيْنَاهُم مِّنْ آيَةٍ بَيِّنَةٍ وَمَن يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللّهِ مِن بَعْدِ مَا جَاءتْهُ فَإِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Bertanyalah kepada Bani Israil, berapa banyak keterangan-keterangan yang telah Kami berikan kepada mereka (sedang mereka masih ingkar)? dan sesiapa menukar nikmat keterangan Allah (dengan mengambil kekufuran sebagai gantinya) sesudah nikmat itu sampai kepadaNya, maka (hendaklah ia mengetahui) sesungguhnya Allah amat berat azab seksaNya.

Ask of the Children of Israel how many a clear revelation We gave them! He who altereth the grace of Allah after it hath come unto him ( for him ) , lo! Allah is severe in punishment .

TAFSIR NURUL IHSAN

سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَمْ آتَيْنَاهُم مِّنْ آيَةٍ بَيِّنَةٍ
Tanya oleh ya Muhammad akan bani Israel Yahudi Madinah berapa banyak Kami datang akan mereka itu daripada mu’jizat yang zahir seperti buka laut dan turun man dan salwa, maka tukar mereka itu akandia kufur soal kerana tabkiah dan taubih Tanya kerana menarik dan mengkeji
وَ مَن يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللّهِ مِن بَعْدِ مَا جَاءتْهُ
Dan barang siapa yang menukar akan ni’mat Allah daripada kemudian barang yang datang akan dia akan kufur
فَإِنَّ اللّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Maka bahawasanya Allah Ta’ala itu sangat-sangat siksa

Al Baqarah - Ayat 210



هَلْ يَنظُرُونَ إِلاَّ أَن يَأْتِيَهُمُ اللّهُ فِي ظُلَلٍ مِّنَ الْغَمَامِ وَالْمَلآئِكَةُ وَقُضِيَ الأَمْرُ وَإِلَى اللّهِ تُرْجَعُ الأمُورُ
(Orang-orang yang ingkar itu) tidak menunggu melainkan kedatangan (azab) Allah kepada mereka dalam lindungan-lindungan awan, bersama-sama dengan malaikat (yang menjalankannya), padahal telahpun diputuskan perkara itu (balasan azab yang menimpa mereka); dan kepada Allah jua kembalinya segala urusan.

Wait they for naught else than that Allah should come unto them in the shadows of the clouds with the angels? Then the case would be already judged . All cases go back to Allah ( for judgment )


TAFSIR NURUL IHSAN

Tiada nanti mereka itu melainkan bahawa datang akan mereka itu oleh Allah Ta’ala azabNya pada segala bayang-bayang teduh daripada awan putih nipis
وَالْمَلآئِكَةُ وَقُضِيَ الأَمْرُ
Dan malaikat dan dihukum pekerjaan binasa mereka itu
وَإِلَى اللّهِ تُرْجَعُ الأمُورُ
Dan kepada Allah Ta'ala jua dikembali segala pekerjaan akhirat pada membalas

Al Baqarah - Ayat 209

فَإِن زَلَلْتُمْ مِّن بَعْدِ مَا جَاءتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ فَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Maka kalau kamu tergelincir (dan jatuh ke dalam kesalahan disebabkan tipu daya Syaitan itu), sesudah datang keterangan-keterangan yang jelas kepada kamu, maka ketahuilah bahawasanya Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana.

And if ye slide back after the clear proofs have come unto you , then know that Allah is Mighty , Wise 

TAFSIR NURUL IHSAN

فَإِن زَلَلْتُمْ مِّن بَعْدِ مَا جَاءتْكُمُ الْبَيِّنَاتُ
Maka jika cenderong kamu tiada bawa masuk pada sekelian hukum Islam daripada kemudian barang yang datang akan kamu oleh segala kenyataan hujjah yang zahir atas bahawasanya Islam sebenar
فَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Maka ketahu oleh kamu bahawasanya Allah Ta’ala Tuhan yang keras tiada lemah akan Dia oleh suatu lagi Hakim pada perbuatanNya.

Khamis, 15 Mei 2014

Al Baqarah - Ayat 208

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Ugama Islam (dengan mematuhi) segala hukum-hukumnya; dan janganlah kamu menurut jejak langkah Syaitan; sesungguhnya Syaitan itu musuh bagi kamu yang terang nyata.

O ye who believe! Come , all of you , into submission ( unto Him ) ; and follow not the footsteps of the devil . Lo! he is an open enemy for you .

TAFSIR NURUL IHSAN

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السِّلْمِ كَآفَّةً
Hai segala orang yang mu’min masuk oleh kamu pada agama Islam itu sekelian hukum syariatnya dan tinggal oleh kamu daripada syariat Musa yang menyalahi bagi hukum Islam
وَلاَ تَتَّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ
Dan jangan kamu ikut akan segala jalan Syaitan dengan pecah-pecah hukum agama ikut setengah setengah
إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Bahawasanya syaitan itu bagi kamu seteru yang nyata.

TAFSIRAN YANG LAIN

Beberapa Bahasan
- Apa maksud dari surat Al-Baqarah: 208 tersebut?
- Apa makna “masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan” dalam QS. Al-Baqarah: 208 tersebut?
- Apakah makna “masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan” berarti bermakna “masuklah salah satu jama’ah dari jama’ah Islam”?
Tinjauan Al-Qur’an
Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu musuh yang nyata bagimu.” (Al-Baqarah: 208)
Seandainya kita mencoba mentadabburi ayat tersebut secara sepintas, maka kandungan yang bisa kita ambil dari ayat tersebut adalah:
1. Orang yang diseru pada ayat tersebut adalah orang-orang yang beriman.
2. Ayat tersebut berupa anjuran kepada orang yang beriman untuk memasuki Islam secara keseluruhannya dan tidak parsial.
3. Ayat tersebut berupa anjuran kepada orang yang beriman untuk tidak (baca: larangan) mengikuti langkah-langkah syaithan.
4. Perintah menjadikan syaithan sebagai musuh bagi orang-orang yang beriman.
Tinjauan Asbab An-Nuzul
Seandainya kita coba menelaah Kitab Asbab An-Nuzul yang berkenaan dengan ayat tersebut, maka kita akan mengetahui bahwasannya–dalam satu riwayat–ayat tersebut berkenaan dengan sekelompok kaum Yahudi yang menghadap Rasulullah SAW yang hendak menyatakan keimanannya, namun disamping itu mereka pun (orang-orang Yahudi tersebut) meminta pula kepada Nabi SAW agar dibiarkan merayakan hari Sabtu dan mengamalkan Kitab Taurat pada malam hari. Mereka menganggap bahwa hari Sabtu merupakan hari yang harus dimuliakan, dan Kitab Taurat adalah kitab yang diturunkan oleh Allh SWT juga. Oleh karena itu, berkenaan dengan peristiwa tersebut, maka turunlah ayat tersebut di atas, yang merupakan perintah agar tidak mencampur-baurkan agama. Di antara orang-orang Yahudi yang menghadap kepada Nabi itu adalah: Abdullah bin Salam, Tsa’labah, Ibnu Yamin, Asad bin Ka’ab, Usaid bin Ka’ab, Sa’id bin ‘Amr, dan Qais bin Zaid (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ikrimah).
Tinjauan Tafsir
Berkenaan dengan surat tersebut, Sayyid Quthb dalam Fi-Zhilalil Qur’an mengatakan, “Ketika menyeru orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam kedamaian (Islam) secara total, Allah SWT memperingatkan mereka dari mengikuti langkah-langkah syaithan. Petunjuk atau kesesatan. Islam atau jahiliyah. Jalan Allah SWT atau jalan syaithan. Petunjuk Allah SWT atau kesesatan syaithan. Dengan ketegasan seperti ini seharusnya seorang muslim bisa mengetahui sikapnya, sehingga tidak terombang-ambing, tidak ragu-ragu, dan tidak bingung di antara berbagai jalan dan dua arah.
Sesungguhnya di sana tidak ada beraneka ragam manhaj yang harus dipilih salah satunya oleh seorang Mukmin, atau dicampur aduk salah satunya dengan yang lain. Tidak! Sesungguhnya orang yang tidak masuk ke dalam kedamaian (Islam) secara total, orang yang tidak menyerahkan dirinya secara murni kepada pimpinan Allah SWT dan syari’at-Nya, orang yang tidak melepaskan semua tashawwur (konsepsi), manhaj dan syari’at lain, sesungguhnya ia berada di jalan syaithan dan berjalan di atas langkah-langkah syaithan.
Di sana tidak ada solusi tengah, tidak ada manhaj gado-gado, tidak ada langkah setengah-setengah! Di sana hanya ada kebenaran dan kebathilan. Petunjuk dan kesesatan. Islam dan jahiliyah. Manhaj Allah atau kesesatan syaithan. Allah SWT menyeru orang-orang yang beriman pada bagian pertama untuk masuk ke dalam kedamaian (Islam) secara total; dan memperingatkan pada bagian kedua dari mengikuti langkah-langkah syaithan. Kemudian hati dan perasaan mereka tersadar dan rasa khawatir mereka tersentak dengan peringatan tentang permusuhan syaithan terhadap mereka tersebut. Permusuhan yang sangat jelas lagi gamblang, yang tidak akan pernah dilupakan kecuali oelh orang yang lengah, sedangkan kelengahan memang tidak pernah terjadi bersama keimanan (Quthb, 2000: 486-487).
Sementara Ibnu Katsir dalam Tafsirnya menjelaskan, mengenai firman Allah SWT ‘ud khuluu fissilmi’, Al-’Aufi mengatakan bahwasannya maknanya adalah ‘Islam’ (Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Thawus, Adh-Dhahak, Qatadah, As-Suddi, dan Ibnu Zaid), sementara Adh-Dhahak mengatakan ‘ia bermakna ketaatan’ (Diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, Abul ‘Aliyah, dan Rabi’ bin Anas).
Mengenai firman-Nya ‘kaafah’, Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Abul ‘Aliyah, ‘Ikrimah, Rabi’ bin Anas, As-Suddi, Muqatil bin Hayyan, Qatadah, dan Adh-Dhahhak mengatakan ‘maknanya berarti jami’an (keseluruhan)’, sementara Muhahid mengatakan, “Artinya, kerjakanlah semua amal shalih dan segala macam kebajikan.” Oleh karena itu, makna keseluruhannya adalah bahwa mereka seluruhnya diperintahkan untuk mengerjakan semua cabang iman dan syari’at Islam, yang jumlahnya sangat banyak, sesuai dengan kemampuan mereka.
Pendapat Bathil
Berkenaan dengan ayat tersebut di atas, ada pendapat bathil yang dikatakan oleh sebagian orang bahwasannya ayat tersebut merupakan dalil untuk memasuki salah satu jama’ah Islam. Mereka mengatakan maksud dari “masuk Islam secara kaafah” berarti “seluruh kaum muslimin harus memasuki jama’ah mereka”, mentaati Imam mereka, mentaati tashawwur dan manhaj organisasi (baca: jama’ah) mereka–dan bukannya tashawwur dan manhaj Islam; bukannya memasuki Islam secara total (baca: kaafah); bukannya mengamalkan seluruh dalil baik yang berkenaan dengan perintah Allah SWT ataupun larangan-Nya; bukannya mengikuti Nabi-Nya yang merupakan al-qudwah fii latbiiq ar-risalah.
Bukan hanya itu, merekapun mengklaim hanya merekalah yang benar-benar ‘suci’ sedangkan selainnya (baca: di luar jama’ah mereka) masih berada dalam kubangan jahiliyah. Padahal–setelah kita baca beberapa tinjauan di atas–ayat tersebut berkenaan dengan orang-orang Yahudi yang hendak menyatakan keimanannya yang tidak mencampurkan yang haq dengan yang bathil (meski kaum mukminin tersebut berada di luar jama’ah mereka).
Itulah sebagian dari pendapat mereka berkenaan dengan ayat tersebut di atas.
Kesimpulan
Dari beberapa bahasan di atas, kita dapa enyimpulkan bahwasannya:
1. Khittab ayat tersebut adalah orang-orang Yahudi yang hendak menyatakan keimanannya kepada Nabi, akan tetapi mereka masih tetap ingin mencampur-adukkan yang haq dengan kebathilan. Ayat tersebut tidak berbicara tentang orang-orang yang beriman yang sudah benar-benar dengan keimanannya untuk tidak mencampur-adukkan yang haq dengan yang bathil. Akan tetapi, bagi orang-orang yang beriman yang belum sebenarnya beriman (baca: masih mencampur-adukan ajaran Islam dengan ajaran nenek moyang) maka kthittab ayat ini pun mengenai mereka.
2. Ayat ini merupakan tolok ukur pemisahan antara jalan yang haq (baca: Islam) dengan jalan bathil, jalan Islam dengan jalan syaithan, dan bukannya antara konsepsi jama’ah yang satu dengan konsepsi jama’ah yang lain yang merupakan bagiand ari jama’ah kaum muslimin.
3. Ayat ini tidak bisa dijadikan dalil sebagai ajakan untuk memasuki salah satu jama’ah kaum muslimin, akan tetapi ia bisa dijadikan dalil sebagai ajakan untuk memasuki kepada Islam (baca: bukan kepada jama’ah) dan keluar dari jalan kebathilan dan kejahiliyahan (baca: jalan selain Islam–dan bukannya dibaca: jalan yang ditempuh jama’ah-jama’ah kaum mukminin), karena jalan-jalan selain Islam merupakan jalan syaithan yang harus kita jauhi sebagai seorang muslim. Oleh sebab itu, manhaj Islam tidak sama dengan manhaj jama’ah